Ternyata Sel Telur Tidak Pasif: Sains di Balik "Cryptic Female Choice"

Sel Telur Punya "Filter" Biologisnya Sendiri

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B pada tahun 2020 oleh tim peneliti dari Inggris dan Swedia menemukan bahwa cairan folikel di sekitar sel telur manusia, yang menjadi sumber zat penarik kimia (chemoattractant) bagi sperma ternyata menarik sperma dari pria tertentu secara berbeda-beda, tergantung kombinasi antara sel telur dan sperma tersebut.

Dengan kata lain, sel telur tidak menarik semua sperma secara setara. Ia melepaskan sinyal kimia yang secara selektif lebih menarik sperma dari pasangan genetik tertentu dibanding yang lain.

Fenomena ini disebut cryptic female choice, proses pemilihan yang terjadi setelah pembuahan dimulai, tersembunyi dari pengamatan biasa, di mana pihak betina (dalam hal ini sel telur) tetap memiliki andil dalam menentukan sperma mana yang berhasil membuahi.

Bukan Soal Siapa yang Tercepat

Studi yang sama menunjukkan bahwa preferensi sel telur terhadap sperma tertentu tidak selalu sejalan dengan pilihan pasangan yang dibuat sebelum pembuahan (pre-mating choice). Artinya, sperma yang paling cepat dan gesit sekalipun bisa saja "ditolak" secara kimiawi apabila kombinasi genetiknya dengan sel telur dianggap kurang cocok oleh sistem reproduksi.

Penelitian lain yang mendukung temuan ini mengaitkan pemilihan tersebut dengan kompatibilitas genetik pada major histocompatibility complex (MHC) bagian dari sistem imun tubuh yang berperan penting dalam kesehatan keturunan. Semakin berbeda MHC antara pasangan, biasanya semakin baik kombinasi genetik untuk keturunan yang dihasilkan, dan sinyal kimia dari sel telur tampaknya bisa "membaca" kecocokan ini.

Kenapa Temuan Ini Penting?

  1. Mengubah cara pandang soal reproduksi. Proses pembuahan bukan proses satu arah di mana sperma aktif dan sel telur pasif. Keduanya sama-sama berperan dalam menentukan hasil pembuahan.
  2. Relevan untuk dunia medis reproduksi. Pemahaman soal chemoattractant dan cryptic female choice bisa membuka jalan baru dalam penelitian tentang kesuburan dan keberhasilan program bayi tabung (IVF), termasuk memahami kenapa beberapa pasangan sulit mendapatkan kehamilan meski secara klinis tidak ada masalah yang jelas.
  3. Menegaskan kompleksitas tubuh perempuan. Sistem reproduksi perempuan ternyata jauh lebih aktif dan cerdas secara biologis dibanding gambaran yang selama ini beredar di masyarakat.

Kesimpulan

Sel telur bukan penumpang pasif dalam proses pembuahan. Ia punya mekanisme kimiawi sendiri untuk "menyaring" sperma yang paling cocok secara genetik, bukan sekadar yang paling cepat sampai. Cryptic female choice menunjukkan bahwa tubuh perempuan memiliki peran aktif dan kompleks jauh melampaui apa yang selama ini kita pahami tentang reproduksi manusia.

Sumber: Fitzpatrick, J.L., et al. (2020). "Chemical signals from eggs facilitate cryptic female choice in humans." Proceedings of the Royal Society B, 287(1928). Dipublikasikan oleh The Royal Society.

Back to blog